Friday, March 30, 2012

Teori Pertumbuhan Ekonomi

Perbedaan pokok antara pertumbuhan perekonomian nasional dan analisispertumbuhan daerah adalah perpindahan faktor (factor movements). Asumsi bahwa perekonomian suatu bangsa sebagai perekonomian tertutup yang acap kali digunakan dalam analisis pertumbuhan ekonomi nasional tidak dapat digunakan dalam analisis pertumbuhan ekonomi daerah. Adanya kemungkinan masuk dan keluarnya arus perpindahan tenaga kerja dan modal sangat memperbesar peluang bagi perbedaan tingkat pertumbuhan regional, bahkan kendati stok sumbersumber nasional telah dalam kapasitas penggunaan penuh karena dalam analisis dinamika sebenarnya, stok ini sendiri akan bertambah besar, maka tingkat pertumbuhan suatu daerah dapat jauh lebih tinggi dari pada tingkat normal yang dicapai oleh perekonomian nasional.
Berkaitan dengan analisis pertumbuhan regional ada dua pendekatan metodologis yang sangat berbeda: mengadaptasi model-model ekonomi makro yang digunakan dalam teori pertumbuhan agragatif ( dan varian-varian regional khusus seperti teori basis ekspor) atau menafsirkan pertumbuhan suatu daerah menurut dinamikanya struktur industri ( seperti teori Shift Share). Pendekatan pertama memungkinkan suatu daerah mengidentifikasi hubungan terpenting antara perpindahan faktor-faktor dan pertumbuhan regional dengan cara yang lebih jelas. Sementara pendekatan kedua lebih berorientasi pada perubahan pola pertumbuhan regional sebagai efek netto dari keputusan-keputusan lokasi dan output yang diambil oleh perusahaan-perusahaan bisnis sebagai reaksi terhadap perubahan-perubahan kebutuhan input dan pasar dalam industri-industri mereka (Richardson, 2001)
Terkait dengan pertumbuhan regional menurut ada tiga kekuatan konvergensi potensial yang penting, pertama adanya kemungkinan arus faktor yang bersifat menyeimbangkan seperti diprediksi oleh model neoklasik. Tenaga kerja berpindah dari daerah-daerah upah rendah ke daerah-daerah upah tinggi, dan jika upah dan produk marginal dari modal mempunyai korelasi terbalik, modal akan mengalir menurut arah sebaliknya. Dengan demikian daerah-daerah upah rendah pun cenderung untuk bertumbuh lebih cepat. Sumber utama kedua yang menimbulkan konvergensi adalah alokasi sumber-sumber di dalam lingkungan daerah-daerah yang bersangkutan dari sektor-sektor upah rendah (seperti sector pertanian) ke dalam sektor-sektor produktivitas tinggi, upah tinggi, dengan demikian menaikkan pendapatan rata-rata perkapita. Di banyak negara, kebanyakan perbedaan-perbedaan regional dalam hal pendapatan perkapita dapat dicari sebabnya pada berbeda-bedanya proporsi sumber-sumber yang dipekerjakan dalam sektor pertanian. Luas lingkup bagi relokasi interm semacam ini adalah lebih besar di daerah-daerah upah rendah pertanian. Ketiga, ciri-ciri kematangan dalam daerah-daerah yang sudah lama berpendapatan tinggi dapat melambatkan kenaikan pendapatan perkapita masa mendatang. Barangkali, yang terpenting diantara ciri-ciri ini adalah habisnya kemungkinan perpindahan sumber-sumber antarsektoral dan inelastisnya fungsi-fungsi penawaran tenaga kerja (disebabkan oleh rendahnya tingkat reproduksi neto di daerah-daerah yang sudah perkotaan) (Richardson, 2001). Pada dasarnya masih terdapat perdebatan terkait dengan model pertumbuhan regional yang diakibatkan karena ketiadaan data yang memadai untuk menguji hipotesis sehingga apakah tingkat pertumbuhan regional itu konvergen atau tidak masih dapat dianalisis secara empiris. Guna menggambarkan ciri-ciri daerah yang bertumbuh cepat menurut prediksi model-model pertumbuhan regional dijelaskan dalam tabel berikut:


Tabel 2.1
Prediksi dari Pertumbuhan-Pertumbuhan Regional
Model
Ciri-ciri Daerah-daerah yang Bertumbuh Cepat
Tingkat
Pendapatan
Arah
Perpindahan
Tenaga Kerja
Arah perindahan Modal
Pertumbuhan
Interegional
Harrod Domar
Neo Klasik
Basis Ekspor
(kapasitas tidak
merupakan
pembatasan)
Tinggi
Rendah?
Masuk
Keluar

Masuk
Masuk
Keluar
Divergen
Konvergensi
?
(Sumber: Richardson, 2001)

No comments:

Post a Comment