Friday, March 30, 2012

Pendekatan Studi Kepemimpinan

Oleh Fred E. Fiedler dan Martin M. Chamars, dalam kata pengantar bukunya yang berjudul Leadership in Effectives Management dikemukakan bahwa persoalan utama kepemimpinan secara besar dapat dibagi tiga pertanyaan pokok, yaitu : (a) bagaimana seorang dapat menjadi seorang pemimpin (how one become a leader); (b) bagaimana para pemimpin itu berperilaku (how leader behave effective); (c) apa yang membuat pemimpin itu berhasil (what makes the leader effective). Sehubungan dengan masalah diatas studi kepemimpinan dibagi kedalam beberapa pendekatan dalam arti upaya untuk menjawab atau memberi pemecahan pada tiga pertanyaan diatas.



Hampir seluruh penelitian kepemimpinan dapat dikelompokkan ke dalam empat macam pendekatan, yaitu pendekatan pengaruh kewibawaan, sifat, perilaku, dan situasional.

a. Pendekatan menurut pengaruh kewibawaan (power influence approach)

Menurut pendekatan ini keberhasilan pemimpin dipandang dari segi sumber dan terjadinya sejumlah kewibawaan yang ada pada pemimpin, dan dengan cara yang bagaimana para pemimpin menggunakan kewibawaan tersebut. Pendekatan ini menekan proses sifat timbal balik, proses saling mempengaruhi dan pentingnya pertukaran hubungan kerjasama antara para pemimpin dengan bawahan.

Berdasarkan hasil penelitian French dan Reven dalam Wahjosumidjo (2010: 20) terdapat pengelompokan sumber darimana kewibawaan tersebut berasal, yaitu :

1. Reward power: bawahan mengerjakan suatu agar memperoleh penghargaan yang dimiliki oleh pimpinan.

2. Coersive Power: bawahan mengerjakan sesuatu agar dapat terhindar dari hukuman yang dimiliki oleh pimpinan.

3. Legitimate Power: bawahan melakukan sesuatu karena pimpinan memiliki kekuasaan untuk memerintah bawahan dan bawahan mempunyai kewajiban untuk menurut atau mematuhi.

4. Expert Power: bawahan mengerjakan sesuatu karena bawahan percaya bahwa pimpinan memiliki pengetahuan khusus dan keahlian serta mengetahui apa yang diperlukan.

5. Referent Power: bawahan melakukan sesuatu karena bawahan merasa kagum terhadap pimpinan atau membutuhkan untuk menerima restu pimpinan dan mau berperilaku pula seperti pimpinan.

Kewibawaan merupakan keunggulan, kelebihan atau pengaruh yang dimiliki oleh kepala sekolah, kewibawaan kepala sekolah dapat mempengaruhi bawahan, bahkan menggerakkan memberdaya segala sumber daya sekolah untuk mencapai tujuan sekolah sesuai dengan keinginan kepala sekolah. Berdasarkan pendekatan pengaruh kewibawaan, seorang kepala sekolah dimungkinkan untuk menggunakan pengaruh yang dimilikinya dalam membina, memberdayakan, dan memberi teladan terhadap guru sebagai bawahan. Legitimate dan coersive power memungkinkan kepala sekolah dapat melakukan pembinaan terhadap guru, sebab dengan kekuasaan dan memerintah dan memberi hukuman, pembinaan terhadap guru akan lebih mudah dilakukan.

b. Pendekatan Sifat (the treat approach)

Pendekatan ini menekan pada kualitas pimpinan keberhasilan pimpinan ditandai oleh daya kecakapan luar biasa yang dimiliki oleh pimpinan seperti (1) tidak kenal tidak lelah atau penuh energi; (2) intuisi yang tajam; (3) tinjauan ke masa depan yang tidak sempit; dan (4) kecakapan meyakinkan yang sangat menarik.

Menurut pendekatan sifat, seseorang menjadi pimpinan karena sifat-sifatnya dibawa sejak lahir, bukan karena dibuat atau dilatih. Seperti dikatakan oleh Thierevt dalam Purwanto (1997 : 37) : “the heredity appoach status that leaders are born and note made that leaders do not acquire the ability to lead, but in here it” yang artinya pimpinan adalah dilahirkan bukan dibuat, bahwa pimpinan tidak dapat memperoleh kemampuan untuk memimpin, tetapi mewarisinya. Selanjutnya, Stogdell dalam Sutisna (1985 : 67) mengemukakan bahwa seseorang tidak menjadi pemimpin dikarenakan memulai suatu kombinasi sifat-sifat kepribadian, tapi pola sifat-sifat pribadi pemimpin itu mesti menunjukkan hubungan terkata dengan sifat, kegiatan, dan tujuan daripada pengikutnya.

Berdasarkan pendekatan sifat, keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya dipengaruhi oleh sifat-sifat pribadi melainkan ditentukan oleh kecakapan/keterampilan (skill) pribadi pemimpin. Hal ini sejalan dengan pendapat Yukl (1981 : 16) yang menyatakan bahwa sifat-sifat pribadi dan keterampilan seorang pemimpin berperan dalam keberhasilan seorang pemimpin.

c. Pendekatan Perilaku (the behavior approach)

Pendekatan perilaku menekankan pentingnya perilaku yang dapat diamati atau dilakukan oleh para pemimpin dari sifat pribadi atau sumber kewibawaan yang dimilikinya. Oleh sebab itu, pendekatan perilaku itu mempergunakan acuan seperti pribadi dan kewibawaan. Sifat-sifat pribadi, (a) kemampuan menyesuaikan diri terhadap situasi ; (b) selalu siap terhadap lingkungan sosial ; (c) berorientasi kepada cita-cita keberhasilan; (d) tegas ; (e) kerjasama ; dan (f) percaya diri.

d. Pendekatan Kontingensi (Continngence approach)

Pendekatan kontengensi menekakankan pada ciri-ciri pribadi pemimpin dan situasi, mengemukakan dan mencoba untuk mengukur dan memperkirakan ciri-ciri pribadi ini, dan membantu pemimpin dengan garis pedoman perilaku yang bermanfaat yang didasarkan pada kombinasi dari kemungkinan yang bersifat kepribadian dan situasional (Hasibuan, 1986 : 45).

Teori kontingensi bukan hanya merupakan hal yang penting bagi kompleksitas yang bersifat interaktif dan fenomena kepemimpinan, tetapi membantu pula para pemimpin yang potensial dengan konsep-konsep yang berguna untuk menilai situasi yang bermacam-macam dan untuk menunjukkan perilaku kepemimpinan yang tepat dan berdasarkan situasi.

Dalam kaitan ini Sutisna menyatakan bahwa “kepemimpinan ; adalah hasil dari hubungan-hubungan dalam situasi sosial dan dalam situasi berbeda para pemimpin memperlihatkan sifat pribadinya yang berlainan. Jadi pemimpin dalam situasi yang satu mungkin tidak sama dengan tipe pemimpin dalam situasi yang lain sementara Fattah (2001: 17) berpandangan bahwa keefektifan kepemimpinan bergantung pada kecocokan antara pribadi, tugas, kekuasaan, sikap dan persepsi.

No comments:

Post a Comment