Friday, March 30, 2012

Sifat dan Gaya Kepemimpinan

Winarti cenderung membagi sifat kepemimpiann ke dalam beberapa golongan, pembagian ini didasarkan pada penelitian terhadap sejumlah orang yang dikenal sebagai pemimpin dan kemudian mempelajari sifat-sifat tersebut adalah : (1) energi, fisik, dan syaraf; (2) sifat mengenal tujuan dan arah; (3) Enthusiasme; (4) Sifat ramah dan efektif; (5) integritas; (6) kemampuan teknis; (7) dapat mengambil keputusan; (8) ilelegensi; (9) Kemampuan untuk menjajarkan sesuatu; dan (10) kepercayaan.



Menurut Munawir (1983: 68) beberapa sifat kepemimpinan sebagaimana berikut: (1) kuat aqidah; (2) sederhana dan jujur; (3) kekuatan jasmani yang kuat; (4) kekuatan rohani yang cukup; (5) bagian integrasi; (6) percaya pada diri sendiri; (7) cepat dan tepat mengambil keputusan; (8) ramah tamah penuh pengertian; (9) memiliki reputasi yang menyeluruh; (10) cerdas; (11) penuh semangat berjuang; (12) semangat mencapai tujuannya, dan (13) tahan uji.

Wahjosumidjo (1987: 45) menerangkan pendapat yang berbeda-beda mengenai kepemimpinan menurut teori sifat sebagaimana diperinci berikut ini Gidway Tead. Ada 10 macam sifat atau perangai, yaitu (1) energi jasmani dan rohani; (2) kepastian akan maksud dan arah tujuan; (3) antusiasme atau perhatian yang besar; (4) ramah-tamah penuh rasa persahabatan; (5) integrasi atau pribadi yang kuat; (6) kecakapan teknis; (7) mudah mengambil keputusan; (8) cerdas; (9) kecakapan mengajar; (10) kesetiaan.

Jhon D. Miller membagi empat syarat yang perlu dimiliki setiap pimpinan yaitu: (1) kemampuan melekat organisasi sebagai satu keseluruhan; (2) kemampuan mengambil keputusan-keputusan; (3) kemampuan melimpah atau mendelegasi wewenang; dan (4) kemampuan menanam kesetiaan.



Para ahli filsafat dan ahli teori sosial telah berusaha untuk menyimpulkan pandangannya dengan menggunakan bermacam-macam tipologi kepemimpinan, yaitu : (1) tipe atokratik, yang sempat berkuasa dalam organisasi; (2) tipe demokratik, yang melambangkan interest dari kelompok; (3) tipe eksekutif, yang memperoleh kepemimpinan karena segala hal dapat terlaksana; (4) tipe cerminan intelektual, yang mendapat kesukaran dalam merebut banyak penyakit.

Gaya kepemimpinan yang diperagakan oleh Bill Woods yakni (1) otokrasi yaitu pemimpin membuat keputusan sendiri, karena kekuasaan terpusat dalam diri satu orang ia memikul tanggung jawab itu wewenang penuh; (2) demokratis (partisipatif) yaitu pemimpin itu berkonsultasi dengan kelompok mengenai masalah yang menarik perhatian mereda dimana mereka dapat mengembangkan sesuatu dan ; (3) kendali bebas yaitu pimpinan memberi kekuasaan pada bawahan, kelompok dapat mengembangkan sasarannya sendiri dan memecah masalah sendiri, pengarahan tidak ada atau hanya sedikit.

Menurut Get Zals dan Guba (1957: 261) mengajukan tiga tipe kepemimpinan, yaitu (1) nomotheis leadership, berkaitan dengan masalah harapan-harapan dan peranan-peranan yang membutuhkan dimensi normatif dari aktifitas dari sistem sosial; (2) ideographic leadership, berhubungan dengan kebutuhan individual dan disposisi anggota yang menentukan dimensi personal dari aktifitas kelompok; (3) syintethic mempertemukan diri adanya dua sistem yang bertentangan/berawanan antara dimensi normatif dengan dimensi personal dalam sistem sosial.
Terry (yang dikutip Maman Ukas), bahwa pendapatnya membagi tipe-tipe kepemimpina menjadi 6 tipe yaitu: (1) kepemimpinan pribadi (personal leadership) dalam sistem kepemimpinan itu, segala sesuatu tindakan itu dilakukan dengan mengadakan kontrol pribadi petunjuk dilakukan secara lisan atau langsung dilakukan secara pribadi oleh pemimpin yang bersangkutan. (2) kepemimpinan non pribadi (non personal leadership) segala sesuatu kebijakan yang dilaksanakan melalui bawahan-bawahan atau media non pribadi baik rencana atau perintah juga pengawasan. (3) kepemimpinan otoriter (autoruritotion leadership) pemimpin otoriter biasanya bekerja keras, sungguh-sungguh, teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan-peraturan yang berlaku secara ketat dan instruksi-instruksi harus ditaati. (4) kepemimpinan demokratis (democratis leadership) pimpina yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang terlaksananya tujuan bersama. Agar setiap anggota turut bertanggung jawab, maka seluruh anggota ikut serta dalam segala kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan, dan penilaian. (5) kepemimpinan paternalistis (paternalistis leadership) kepemimpinan ini dicirikan oleh suatu pengaruh yang bersifat kebapakan dalam hubungan pimpinan dan kelompok. Tujuannya adalah untuk melindungi dan untuk memberi arah seperti halnya seorang bapak kepada anaknya dan (6) kepemimpinan menurut bapak (indogenius leadership) biasanya akan muncul pimpinan yang mempunyai kelemahan diantara yang ada dalam kelompok tersebut menurut bidang keahliannya dimana ia ikut berkecimpung. Dari kelompok orang-orang yang informal dimana mungkin mereka berlatih dengan adanya sistem/komposisi sihingga bisa menimbulkan ‘klik’ dari kelompok yang bersangkutan.

Seorang pemimpin dapat melakukan berbagai cara atau tindakan untuk mempengaruhi orang lain atau bawahan agar mau melakukan tindakan-tindakan yang selalu terarah untuk mencapai tujuan.

Purwanto (1997:34) mengemukakan bahwa gaya kepemimpinan adalah suatu cara atau teknik seseorang dalam menjalankan suatu kepemimpinannya. Selanjutnya dikemukakan bahwa gaya kepemimpinan dapat pula diartikan sebagai norma perilaku yang digunakan seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia lihat. Dalam hal ini usaha menselaraskan persepsi diantara orang yang akan mempengaruhi perilaku dengan yang akan dipengaruhi menjadi amat penting kedudukannya.

Kepala sekolah dalam melakukan kepemimpinannya mempunyai karakteristik dan gaya kepemimpinan untuk mecapai tujuan. Sebagai seorang pemimpin, kepala sekolah mempunyai sifat, kebiasaan, temperamen, watak dan kebiasaan sendiri yang khas sehingga dengan tingkah laku dan gayanya sendiri yang membedakan dirinya dengan orang lain. Gaya atau tipe hidup ini pasti akan mewarnai perilaku dan tipe kepemimpinannya.

Banyak pendekatan dalam gaya kepemimpinan guna untuk meningkatkan kompetensi guru. Dewasa ini, banyak konsep tentang gaya kepemimpinan dalam meningkatkan kompetensi guru. Menurut Handoko (1999: 295) ada beberapa pendekatan kepemimpinan yang diklasifikasi sebagai pendekatan-pendekatan kesemapatan, perilaku dan situasional, yaitu (1) pendekatan pertama memandang kepemimpinan sebagai suatu kombinasi sifat-sifat yang tampak; (2) pendekatan kedua mengidentifikasikan perilaku-perilaku (behaviours) pribadi yang berhungann dengan kepemimpinan yang efektif. Pendekatan ini beranggapan bahwa seorang individu yang memiliki sifat-sifat tertentu atau memperagakan perilaku-perilaku tertentu akan muncul sebagai pimpinan dalam situsi kelompok apapun dimana ia berada; (3) pandangan situasional tentang kepemimpinan, pandangan ini menganggap bahwa kondisi yang menentukan efektivitas kepemimpinan bervariasi dengan situasi yakni tugas-tugas yang dilakukan, keterampilan dan penghargaan bawahan, lingkungan organisasi, pengalaman masa lalu pimpinan dan bawahan dan sebagainya.

Teori situasional yang disampaikan oleh Hersey and Blanchard (http://cokroaminoto.wordpress.com/2008/02/22). Gaya kepemimpinan situasional adalah perilaku dan gaya kepemimpinana yang harus menyesuaikan responnya menurut kondisi atau tingkat perkembangan, kematangan, kemampuan dan minat karyawan dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Dalam hal ini, respon seorang manager dalam perilaku kepemimpinannya memberi sejumlah pengarahan dan dukungan yang bersifat situasional. Sementara itu, manager harus menyesuaikan tingkat kematangan karyawan.

Berdasarkan tingkat kematangannya menurut Hersey and Blanchard ada 4 jenis karyawan, yaitu : (1) karyawan tidak mampu dan tidak mau; (2) karyawan yang tidak mampu tapi mau; (3) karyawan yang mampu tetapi tidak mampu; (4) karyawan yang mampu dan mau.

Ada empat kematangan karyawan, yaitu:

(a) Mengarahkan (telling)

Gaya kepemimpinan yang mengarahkan, merupakan respon kepemimpinan yang perlu dilakukan oleh manajer pada kondisi karyawan lemah dalam kemampuan, minat dan komitmennya. Sementara itu, organisasi menghendaki penyelesaian tugas-tugas yang tinggi. Dalam situasi seperti ini Hersey and Blanchard menyarankan agar manajer memainkan peran directive yang tinggi, memberi saran bagaimana menyelesaikan tugas-tugas itu, tanpa mengurangi intensitas hubungan sosial dan komunikasi antara pimpinan dan bawahan.

(b) Menjual (selling)

Pada kondisi karyawan menghadapi kesulitan menyelesaikan tugas-tugas, takut untuk mencoba melakukannya, manager juga harus memposisikan struktur tugas dengan tanggungjawab karyawan. Selain itu, manajer harus menemukan hal-hal yang menyebabkan karyawan tidak termotivasi, serta masalah-masalah yang dihadapi karyawan. Pada kondisi karyawan sudah mulai mampu mengerjakan tugas-tugas dengan baik, akan memicu perasaan timbulnya over confident. Kondisi ini, memungkinkan karyawan menghadapi permasalahan baru yang muncul. Masalah-masalah baru yang muncul tersebut, seringkali menjadikannya putus asa. Oleh karena itu, setelah memberikan pengarahan, manajer harus memerankan gaya menjual. Dengan mengajukan beberapa alternatif pemecahan masalah.

(c) Menggalang partisipasi (participation)

Gaya kepemimpinan partisipasi, adalah respon manajer yang harus diperankan ketika tingkat kemampuan karyawan akan tetapi tidak memiliki kemauan untuk melakukan tanggungjawab, karena ketidakmauan atau ketidakyakinan mereka untuk melakukan tugas/tanggung jawab seringkali disebabkan karena kurang keyakinan. Dalam kasus seperti ini pemimpin perlu membuka komunikasi dua arah dan secara aktif mendengarkan mendukung usaha-usaha yang dilakukan para bawahan/pengikutnya.

(d) Mendelegasikan (delegating)

Selanjutnya, untuk tingkat karyawan dengan kemampuan dan kemauan yang tinggi, maka gaya kepemimpinan yang sesuai adalah gaya “delegasi”. Dengan gaya delegasi ini pimpinan sedikit memberi pengarahan maupun dukungan, karena dianggap sudah mampu dan mau melaksanakan tugas/tanggung jawabnya. Mereka diperkenankan untuk melaksanakan sendiri dan memutuskannya tentang bagaimana, kapan dan dimana pekerjaan mereka harus dilaksanakan. Pada gaya delegasi ini tidak terlalu diperlukan komunikasi dua arah.

No comments:

Post a Comment